Sabtu, 23 November 2024

TEKS NARASI(cerpen)-FITRI WIRANTI

Teman Seumur Hidup


Di sebuah sekolah kecil di pinggir kota, ada dua sahabat yang tak terpisahkan—Rani dan Siska. Mereka mulai bersahabat sejak kelas lima, saat Siska pindah dari kota besar ke desa kecil tempat Rani tinggal.


Hari pertama Siska masuk kelas adalah saat yang sulit. Anak-anak lain memandangnya aneh karena logat kota yang ia gunakan terdengar berbeda. Siska merasa seperti orang asing di kerumunan, sampai Rani duduk di sebelahnya saat jam istirahat.


"Hai, aku Rani. Mau makan bareng?" tanya Rani dengan senyuman hangat.


Siska, yang awalnya malu-malu, mengangguk. Mereka berbagi bekal dan cerita. Rani bercerita tentang hobi melukisnya, sementara Siska mengungkapkan kegemarannya membaca novel misteri. Obrolan sederhana itu menjadi awal dari persahabatan yang penuh warna.


Mereka selalu bersama—di perpustakaan, di kantin, bahkan di lapangan olahraga. Meski berbeda karakter, mereka saling melengkapi. Rani yang ceria dan kreatif sering membantu Siska yang cenderung pemalu untuk lebih percaya diri. Sebaliknya, Siska yang tekun belajar sering membantu Rani mengatasi soal-soal matematika yang rumit.


Suatu hari, sekolah mengadakan lomba seni dan literasi. Rani langsung mendaftar untuk lomba melukis, tetapi Siska ragu untuk ikut lomba menulis cerpen.


"Aku nggak yakin tulisanku cukup bagus," kata Siska saat mereka duduk di bawah pohon besar di halaman sekolah.


Rani menatap Siska dengan serius. "Kamu selalu cerita kalau kamu suka menulis, kan? Kalau nggak dicoba, kita nggak akan tahu hasilnya."


Akhirnya, Siska memberanikan diri. Ia menulis sebuah cerpen tentang seekor burung kecil yang berani meninggalkan sarangnya untuk menemukan dunia baru. Saat lomba tiba, Rani dan Siska saling mendukung.


Hari pengumuman pemenang tiba. Rani mendapat juara dua untuk lomba melukis, dan Siska—yang awalnya tidak yakin—mendapat juara pertama untuk lomba menulis cerpen. Siska hampir tidak percaya ketika namanya dipanggil, tetapi Rani melompat kegirangan dan memeluknya erat.


"Sudah kubilang, kamu berbakat!" kata Rani sambil tersenyum lebar.


Setelah itu, persahabatan mereka semakin erat. Mereka tidak hanya berbagi suka, tetapi juga saling menguatkan di saat duka. Ketika Rani kehilangan nenek kesayangannya, Siska ada di sampingnya, memeluknya tanpa banyak bicara. Ketika Siska gagal dalam ujian, Rani membuatkan poster kecil berisi kata-kata semangat untuk menemaninya belajar.


Persahabatan mereka menjadi inspirasi bagi teman-teman di sekolah. Banyak yang kagum melihat betapa mereka selalu saling mendukung, tanpa rasa iri atau dendam.


Tahun-tahun berlalu, dan mereka akhirnya lulus sekolah. Meskipun mereka melanjutkan pendidikan di tempat yang berbeda, persahabatan itu tetap hidup. Setiap kali liburan, mereka selalu bertemu, berbagi cerita, dan mengenang masa-masa indah di sekolah kecil itu.


Persahabatan Rani dan Siska adalah bukti bahwa teman sejati tidak hanya hadir di masa senang, tetapi juga bertahan di saat sulit. Bagi mereka, persahabatan itu bukan sekadar cerita sekolah—itu adalah cerita seumur hidup.

TEKS NARASI(cerpen)-MULYA WIJAYA

 Pelajaran Berharga dalam Petualangan Kecilku


Aku ingin bercerita tentang sebuah pengalaman kecil yang mengajarkanku pelajaran hidup yang berharga.


Suatu hari, saat aku bermain di taman dekat rumahku, aku melihat sebuah burung kecil yang terjebak dalam jaring laba-laba. Burung itu berusaha keras untuk melepaskan dirinya, tapi semakin dia bergerak, semakin terjerat dia. Aku merasa kasihan pada burung itu dan ingin membantunya.


Tanpa berpikir panjang, aku mendekati burung itu dan mencoba melepaskannya dari jaring laba-laba. Tapi semakin aku mencoba, semakin sulit tugas ini. Aku merasa frustasi dan hampir menyerah. Tapi aku ingat bahwa aku tidak boleh menyerah begitu saja.


Aku mencoba lagi dan lagi, sampai akhirnya aku berhasil melepaskan burung itu. Burung itu terbang dengan bebas, dan aku merasa begitu senang dan bangga pada diriku sendiri. Aku belajar bahwa kadang-kadang dalam hidup, kita harus gigih dan tidak boleh menyerah saat menghadapi kesulitan.


Pelajaran berharga pertama yang aku pelajari adalah ketekunan. Aku belajar bahwa dengan tekad dan usaha, kita bisa mencapai apa pun yang kita inginkan. Aku merasa seperti seorang pahlawan kecil yang telah menyelamatkan nyawa burung kecil itu.


Setelah melepaskan burung itu, aku duduk di taman dan merenungkan pengalaman ini. Aku menyadari bahwa kita juga harus berhati-hati saat ingin membantu. Kadang-kadang, tindakan baik kita bisa membuat situasi menjadi lebih sulit.


Aku ingat ibuku pernah memberitahu bahwa tidak semua orang akan menerima bantuan kita dengan baik, meskipun niat kita baik. Aku belajar bahwa penting untuk berpikir sebelum bertindak, dan bahwa kita harus mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan kita.


Kemudian, aku melihat seorang anak laki-laki seumuranku yang sedang menangis di taman. Aku mendekatinya dan bertanya apa yang terjadi. Dia memberitahu bahwa dia kehilangan boneka kesayangannya. Aku merasa simpati padanya dan ingin membantunya menemukan bonekanya.


Kami mencari bersama di sekitar taman, dan setelah beberapa saat, akhirnya kami menemukan boneka itu di bawah sebuah pohon. Anak laki-laki itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih padaku. Aku merasa senang bisa membantunya, dan aku belajar bahwa tindakan kecil seperti ini bisa membuat orang lain bahagia.


Pelajaran berharga kedua yang aku pelajari adalah empati. Aku belajar bahwa kita harus peduli pada perasaan dan kebutuhan orang lain. Terkadang, memberikan dukungan dan kebaikan kepada orang lain bisa membuat perbedaan besar dalam hidup mereka.


Seiring berjalannya waktu, aku terus belajar tentang pelajaran hidup yang berharga. Aku belajar tentang kejujuran, bahwa penting untuk selalu berkata jujur, bahkan jika itu sulit. Aku juga belajar tentang kebaikan, bahwa membantu orang lain adalah tindakan yang baik dan membuat kita merasa bahagia.




Aku tumbuh menjadi anak yang lebih baik setiap hari, dan aku tahu bahwa petualangan kecilku di taman telah memberiku pelajaran berharga. Aku belajar tentang tekad, empati, kejujuran, dan kebaikan. Pelajaran ini tidak hanya berguna dalam kehidupan sehari-hari, tapi juga akan membantu aku menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.


Kisahku adalah contoh sederhana dari bagaimana pengalaman sehari-hari bisa mengajarkan kita pelajaran berharga. Setiap hari adalah kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan menjadi pribadi yang lebih baik. Aku berharap bahwa aku bisa terus mengumpulkan pelajaran hidup yang berharga sepanjang hidupku, dan berbagi kebaikan dan kebijaksanaan ini dengan orang lain.

TEKS ARGUMENTASI-SHABRINA M.

 



Argumentasi Tentang Buah Sukun

Buah sukun (Artocarpus altilis) adalah salah satu buah tropis yang seringkali dianggap sebagai makanan tradisional di berbagai daerah, khususnya di Indonesia. Meskipun popularitasnya sedikit menurun, buah sukun memiliki banyak manfaat yang tidak boleh diremehkan. Dalam hal ini, ada beberapa alasan mengapa buah sukun layak untuk dikonsumsi dan dikembangkan lebih luas sebagai sumber pangan alternatif

1. Sumber Karbohidrat yang Baik

Buah sukun kaya akan karbohidrat yang dapat dijadikan sebagai sumber energi utama. Daging buahnya yang tebal dan berstarch tinggi, menjadikannya mirip dengan kentang atau singkong. Oleh karena itu, buah sukun bisa menjadi pengganti nasi atau bahan pangan lainnya yang mengandung karbohidrat, terutama di daerah yang rawan kekurangan pangan. Selain itu, sukun juga relatif mudah ditanam dan dapat tumbuh di berbagai kondisi iklim, yang membuatnya menjadi pilihan tepat untuk mendukung ketahanan pangan lokal.

2. Kandungan Gizi yang Beragam

Selain kaya akan karbohidrat, sukun juga mengandung sejumlah nutrisi penting seperti vitamin C, kalium, serat, dan antioksidan. Vitamin C pada sukun berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh, sedangkan kalium bermanfaat untuk menjaga keseimbangan elektrolit tubuh dan mendukung fungsi jantung yang sehat. Kandungan serat yang tinggi pada buah sukun juga membantu proses pencernaan dan menjaga kesehatan usus. Dengan berbagai kandungan gizi tersebut, sukun merupakan pilihan makanan yang sehat dan bermanfaat untuk tubuh.

3. Potensi untuk Diversifikasi Produk Pangan

Sukun bukan hanya dapat dimanfaatkan sebagai buah konsumsi langsung, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk pangan olahan, seperti keripik sukun, tepung sukun, hingga penganan tradisional. Tepung sukun, misalnya, bisa digunakan untuk membuat roti atau kue bagi mereka yang sensitif terhadap gluten. Oleh karena itu, sukun memiliki potensi untuk menjadi bahan baku yang sangat fleksibel dalam industri pangan, yang dapat mendukung diversifikasi produk makanan dan membuka peluang ekonomi baru, terutama di daerah pedesaan.

4. Mudah Ditanam dan Ramah Lingkungan

Keunggulan lain dari sukun adalah kemampuannya tumbuh di berbagai kondisi tanah dan iklim tropis, membuatnya cocok untuk ditanam di daerah-daerah yang kurang subur atau terkena dampak perubahan iklim. Tanaman sukun juga memiliki perawatan yang relatif mudah dan tidak membutuhkan banyak pestisida, menjadikannya pilihan yang ramah lingkungan. Dengan memperbanyak budidaya sukun, kita juga bisa memperbaiki keberagaman hayati dan meningkatkan ketahanan pangan secara berkelanjutan.

5. Mengurangi Ketergantungan pada Pangan Impor

Sukun bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada pangan impor, terutama bahan pokok seperti beras dan gandum yang sering kali dipengaruhi oleh fluktuasi harga global. Dengan meningkatkan produksi sukun, negara dapat mengurangi ketergantungan pada impor dan meningkatkan ketahanan pangan nasional.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, buah sukun memiliki banyak manfaat baik dari segi kesehatan, keberagaman produk pangan, hingga kontribusinya terhadap ketahanan pangan dan lingkungan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih mengenal dan mengapresiasi potensi buah sukun sebagai salah satu alternatif sumber pangan yang dapat diandalkan. Dengan demikian, pengembangan dan pemanfaatan sukun harus didorong untuk mewujudkan ketahanan pangan yang lebih baik dan berkelanjutan di masa depan.

TEKS NARASI(cerpen)-ALYSIA PUTRI

 “Pelajaran Cinta Pertama: Antara Fokus dan Perasaan”


 semenjak menduduki bangku kelas 9, aku lebih banyak menghabiskan waktu dengan belajar dan belajar.Aku selalu menginginkan nilaiku menjadi lebih baik.


malang ,2020


aku membawa pesan singkat dari salah satu teman sekelasku,Arya lelaki yang terkenal nakal,dia menyatakan perasaannya, benar -benar mengungkapkan perasaannya.Aku tak tahu harus merespons seperti apa, kubiarkan pesan itu beberapa menit. perasaanku campur aduk, aku merasa sedikit gugup.Lalu dengan segala keyakinan aku mengambil handphone dan menyentuh beberapa huruf disana hingga tertulis kalimat "maaf ya, tetapi aku lebih pengen fokus belajar dulu".


Sejak Arya menyatakan perasaannya Minggu lalu,aku lebih sering memikirkannya hari- hariku sedikit berbeda dan biasanya saat jantungku berdegup kencang ketika Netra tenangnya menatap mataku.Aku tak berbicara dengan perasaan aneh ini.Aku sering mengungkap perasaan ini akan hilang dengan sendirinya.Namun,dengan waktu , perasaan ini semakin memanggil A.aku selalu gugup ketika orang lain menyebut namanya. Aku selalu ingin bertemu saat hari libur tiba,entah apa yang terjadi dengan diriku, namun aku bahagia ketika aku berada di dekat Arya.


seminggu semenjak kejadian Arya menyatakan perasaannya padaku,Arya tak meninggalkan pesan lagi hingga pada hari Senin, aku memasuki kelas tak bersemangat di tambah lagi ,aku menengok ke arah bangku tempat biasanya Arya duduk.Namun aku tak mendapati Arya disana kursinya kosong,hanya tersisa zabdan dan teman sebangku Arya Tak lama dari itu,Bu Mila memasuki kelasku,menerangkan beberapa materi yang akan di bahas saat tryout.Lamunanku buyar saat notifikasi di handphoneku berbunyi,aku melirik sekilas,tak ada niat sedikit pun untuk menjawab.ku urungkan niat itu saat tertera nama Arya disana.Buru-buru aku membuka pesan yang Arya kirim."hei,gimana?kamu udah mikirin jawaban tentang tawaranku Minggu lalu?"deg! jantungku terpacu lebih cepat namun dengan segala keyakinan aku menyetujui  tawaran yang Arya berikan .'iya,aku mau' 'berati  kita....?' bales Arya aku tersenyum,lalu memberi balasan 'iya Arya ,kita pacaran.


sebelumnya,aku tak pernah berpacaran,ini kali pertamaku melakukan hubungan dengan menyangkutkan perasaannya . Hari-hariku tentu berbeda dari sebelumnya .kini,aku lebih singkat menjalani hari-hariku manis sejak kehadiran lelaki nakal yang tiba-tiba datang kehidupanku. hingga tiba waktu liburan semester, saatnya aku dan teman-teman mengistirahatkan diri di rumah dari kegiatan melelahkan di pesantren. Liburanku yang kali ini ,lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.Tetapi di hari ke tiga ku dirumah ,Arya mengajakku keluar. Aku sempat ingin menolak,tetapi dari pada aku terus berbaring ,aku menyetujui permintaan Arya."aku siap-siap dulu kabarin kalau udah otw ya"setelah pesan itu berhasil terkirim,aku bergegas mengganti pakaian dan memoles sedikit lipstik.Tak berselang lama , handphone ku berbunyi , aku menerima panggilan dari kontak Arya."halo? " ucapku "udah siap belum?aku udah didepan" ucap Arya di sebrang sana."oke" aku menutup sambungan telepon mataku melirik kanan kiri mencari sosok ayah dan ibu. aku memberanikan diri membuka pintu kamar ayah dan ibu,"mau kemana nak?" aku menoleh kebelakang.Tangan ibu menyentuh pundakku, aku tersenyum getir. "hehe,mau jalan sama Arya Bu ,ini mau pamitan" "Arya mana?" "di depan Bu" "ajak sini ,suruh dia masuk sebentar" aku mengangguk lalu menghampiri Arya didepan."kamu masuk dulu ya di tunggu ibu".


Setelah Arya keluar dari rumah dan pamit pada  ibu ,kita segera berangkat menuju cafe sekitar sini."ini kita mau ke cafe mana sih? ucapku "terserah " "lhoo,kan kamu yang ngajak jalan ,kok terserah sih Arr" Arya tertawa mendengar ucapan ku,aku bisa melihat deretan gigi rapih Arya  dari spion.Tawa itu manis ,bahkan sangat manis,tawa yang slalu aku harap menemani hingga keberadaanku nanti. sesampainya di cafe,Arya dan siaga melepas helm yang aku pakai.Aku sempat mendelik mendapat perlakuan manis darinya."udah ayo masuk"baru saja ingin melangkahkan kaki ,Arya menarik tangan aku menyengit heran, tangannya menyentuh kerudungku membenarkan sisi-sisi yang mleyot"bentar all, ini kerudungnya ga bener" ucapnya sedikit berbisik. Tangannya masih setia membenarkan krudungku. Aku tersenyum karena perlakuan Arya hari ini.Aku mengikuti langkah Arya masuk pada cafe tersebut "kamu mau makan ngga? biar aku yang pesen "ucapku, Arya menggeleng,"aku pengen minum aja" gausah ,aku aja" Sempati menunggu Arya memesan, aku membuka pesan yang Ayah kirim "Abis Isyak langsung pulang."


Hari ini adalah hari yang benar-benar penuh kejutan setelah aku sampai di rumah,Arya pamit pulang.5 menit seusai aku merebahkan tubuhku di kasur,Arya mengirimi aku pesan"kita udah an jasa ya"aku mendelik membaca notif dari Arya .setelah aku pikir, aku ga bisa bertahan di hubungan yang absurd, yang berjuang hanya aku sendiri,aku ikhlas Arya pergi, aku tidak ingin mempertahankan orang yang sudah ingin  pergi. Dengan kepergian Arya, aku lebih memahami tentang bagaimana hidup lebih dewasa.

TEKS NARASI(cerpen)-AHMAD SETIAWAN

 Panggilan Subuh di Pesantren


Fajar baru saja merekah di langit Timur, mengusir sisa-sisa gelap malam. Di Pondok Pesantren Nurul Huda, aktivitas sudah dimulai sejak dini hari. Suara adzan subuh menggema dari masjid kecil di tengah kompleks, membangunkan para santri yang masih terlelap di bilik-bilik kayu mereka.


Aqil, seorang santri baru, membuka mata perlahan. Suara azan itu terasa asing baginya, seperti membangunkan kenangan masa kecil bersama ayahnya. Dengan enggan, ia bangkit dari kasur tipisnya, menatap teman sekamarnya yang sudah lebih dulu bersiap-siap.


“Kamu belum wudhu, Aqil?” tanya Fadli, teman sekamarnya yang sudah mengenakan sarung dan peci.


“Sebentar lagi,” jawab Aqil, mencoba menepis rasa malas yang menyelimuti tubuhnya.


Ini minggu pertama Aqil di pesantren. Sebagai anak kota, kehidupan di pondok jauh dari bayangannya. Tidak ada ponsel, tidak ada televisi, dan jadwal kegiatan yang padat membuatnya merasa terkurung. Namun, ia tahu keputusan orang tuanya mengirimnya ke pesantren bukan tanpa alasan. Ayahnya ingin Aqil belajar menjadi anak yang lebih disiplin dan bertanggung jawab.


Setelah berwudhu, Aqil berjalan menuju masjid dengan langkah pelan. Udara pagi yang dingin menyapa kulitnya. Di dalam masjid, para santri sudah duduk rapi, menunggu imam memulai shalat berjamaah. Suara pelan bacaan Al-Qur’an terdengar dari beberapa sudut, menciptakan suasana yang tenang dan khusyuk.


Usai shalat subuh, kegiatan tak berhenti. Para santri melanjutkan dengan halaqah, sebuah sesi mengaji bersama yang dipimpin oleh Ustaz Hamid, pengasuh pesantren. Aqil duduk di barisan belakang, mendengarkan ustaz menjelaskan tafsir surah Al-Baqarah. Kata-kata ustaz begitu lembut namun tegas, menyampaikan pesan-pesan moral yang dalam.


“Aqil,” panggil Ustaz Hamid tiba-tiba, membuatnya terkejut.


“I-iya, Ustaz?” balas Aqil dengan gugup.


“Coba baca ayat yang barusan kita bahas,” ujar Ustaz sambil tersenyum, memberikan mushaf kepada Aqil.


Aqil menarik napas panjang. Dengan suara pelan namun lancar, ia membaca ayat tersebut. Teman-temannya mendengarkan dengan penuh perhatian. Ketika selesai, Ustaz Hamid memuji bacaannya, memberikan semangat agar Aqil terus belajar.


Hari-hari berlalu, dan Aqil mulai terbiasa dengan kehidupan pesantren. Awalnya ia merasa terpaksa, tetapi perlahan ia menemukan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Persahabatan dengan Fadli dan teman-temannya membuat suasana menjadi lebih hangat. Bahkan, ia mulai menikmati saat-saat menghafal Al-Qur’an di bawah pohon mangga di halaman pesantren.


Suatu malam, Aqil duduk sendiri di teras masjid, menatap langit penuh bintang. Ia teringat pesan ayahnya sebelum berangkat ke pesantren. “Di sana, kamu bukan hanya belajar agama, tapi juga belajar arti kehidupan.”


Kini ia mulai mengerti. Pesantren bukan hanya tempat untuk memperdalam ilmu agama, tetapi juga tempat untuk membentuk karakter dan menemukan jati diri. Dalam kesederhanaan hidup di pondok, Aqil menemukan kedamaian yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Azan isya terdengar, memanggilnya kembali ke masjid. Dengan langkah mantap, Aqil berjalan masuk, siap melanjutkan perjalanan panjangnya sebagai seorang santri. Di hatinya, ia bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik, seperti harapan ayahnya.

TEKS BERITA-MULYA WIJAYA

 Rujak Cingur merupakan kuliner khas Jawa Timur yang banyak ditemui di jalan-jalan Kota Surabaya. Kuliner ini bahkan bisa juga ditemui di kota lainnya, mengingat kudapan yang satu ini banyak digemari oleh masyarakat. Cingur yang dalam bahasa Jawa Timur berarti congor atau mulut sapi merupakan bahan utama dalam pembuatan rujak unik ini.

Menyusuri Kota Surabaya Lama seperti menyusuri sebuah kenangan, di kanan kiri jalan banyak terdapat bangunan tua bergaya artdeco sisa-sisa kejayaan Belanda. Namun pemandangan akan berubah ketika memasuki kawasan Jalan Karang Menjangan, di sepanjang jalan ini banyak dijumpai penjual makanan khas Surabaya, seperti rawon, tahu tek, dan termasuk salah satunya yang terkenal, yaitu rujak cingur.


Rujak Cingur merupakan kuliner khas berasal dari Jawa Timur yang banyak ditemui di jalan-jalan Kota Surabaya. Kuliner ini bahkan bisa juga ditemui di kota lainnya, mengingat kudapan yang satu ini banyak digemari oleh masyarakat. Cingur, yang dalam bahasa Jawa Timur berarti congor atau mulut sapi, merupakan bahan utama dalam pembuatan rujak unik ini.

TEKS ARGUMENTASI - MULYA WIJAYA

  


Banyak orang Indonesia lebih memilih mengkonsumsi nasi padahal nasi memiliki Indeks Glikemik yang sangat tinggi. Jadi, nasi lebih cepat diserap tubuh menjadi gula darah.


Ada sumber karbohidrat lain seperti singkong yang merupakan karbohidrat kompleks yang kadar gulanya rendah. Mengonsumsi sumber karbohidrat ini juga memberi rasa kenyang lebih lama. Maka dari itu, singkong merupakan salah satu menu makanan pengganti nasi yang paling baik.


Singkong juga salah satu jenis makanan yang bebas gluten. Makanan bebas gluten adalah makanan yang aman dikonsumsi penderita penyakit celiac atau intoleransi gluten.

Jumat, 22 November 2024

TEKS NARASI(cerpen)-M.RAJIF

 Pagi itu, aku dan ibu memulai perjalanan menuju rumah nenek yang terletak di pinggir desa. Jalanan berdebu dan sepi, hanya sesekali kami melewati petani yang sedang bekerja di sawah. Sesampainya di rumah nenek, aku langsung disambut pelukan hangatnya. "Kamu sudah besar, ya," katanya sambil tersenyum. Kami duduk di teras, menikmati teh manis dan kue lapis buatan nenek. Bercerita tentang kehidupan masing-masing, nenek mengenang masa kecilku dengan tawa dan ceria. Waktu berlalu begitu cepat, dan sebelum pulang, nenek memberi nasihat lembut yang selalu kuingat. "Jangan lupa kembali, nak." Dengan hati penuh, kami pun meninggalkan rumah itu, membawa kenangan indah yang selalu menghangatkan hati.

TEKS BERITA-M.RAJIF

 Peningkatan Kasus Pembulian di Sekolah: Perlu Tindakan Tegas


Tanggal: 22 November 2024


Kasus pembulian di sekolah terus meningkat, baik dalam bentuk kekerasan fisik maupun cyberbullying. Menurut Kementerian Pendidikan, faktor perbedaan fisik, ekonomi, dan sosial menjadi pemicu utama. Dampak psikologis bagi korban, seperti depresi dan kecemasan, semakin mengkhawatirkan. Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah memperkenalkan program anti-bullying di sekolah dan memperketat regulasi. Para ahli mengingatkan pentingnya peran orang tua dan guru dalam mendeteksi dan menangani perundungan. Kerjasama semua pihak diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman.

TEKS NARASI(cerpen)-SHABRINA M.

 Judul: "Di Balik Pintu Tua"

Di sebuah desa kecil yang terletak di kaki bukit, ada sebuah rumah tua yang konon dihuni oleh seorang nenek yang tidak pernah terlihat. Rumah itu sudah lama kosong, pintu kayunya yang kusam dan jendelanya yang berdebu seakan menunggu seseorang untuk membukanya kembali. Meskipun warga desa tahu ada yang tinggal di dalam, tak seorang pun yang pernah benar-benar bertemu dengannya. Ada banyak cerita yang beredar tentang rumah itu—ada yang mengatakan bahwa nenek itu penyihir, ada pula yang bilang rumah itu berhantu.

Sore itu, ketika matahari sudah mulai tenggelam di balik pegunungan, seorang anak muda bernama Rina duduk termenung di bawah pohon jambu. Matanya terpaku pada rumah tua itu, merasa tertarik dan sekaligus takut. Sejak kecil, ia selalu mendengar cerita-cerita menakutkan tentang rumah tersebut, tapi hatinya merasa penasaran. “Apa yang sebenarnya ada di dalam sana?” pikirnya.

Tiba-tiba, langkah kaki mendekat. Rina menoleh dan melihat Kak Tuti, wanita tua

TEKS ARGUMENTASI-SITI KHODIJAH


 Nutrisi lengkap yang terkandung pada ubi jalar

Ubi jalar adalah salah satu jenis umbi-umbian yang populer di Indonesia. Selain rasanya yang manis dan lezat, ubi jalar juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, namun, masih banyak orang yang menganggap bahwa ubi jalar hanya sebagai makanan pengganti nasi atau camilan semata. Padahal, ubi jalar memiliki nilai gizi yang sangat tinggi dan layak dijadikan sebagai makanan pokok.

       Ubi jalar kaya akan serat yang sangat baik untuk pencernaan. Serat pada ubi jalar dapat membantu mengurangi risiko sembelit dan memperlancar sistem pencernaan. Serat juga dapat membantu menurunkan kadar kolesterol dalam darah dan meningkatkan kesehatan jantung, selain itu, ubi jalar juga mengandung vitamin A yang sangat penting bagi kesehatan mata, vitamin A pada ubi jalar dapat membantu menjaga kesehatan mata dan mencegah terjadinya rabun senja atau kebutaan pada orang dewasa, tidak hanya itu, ubi jalar juga mengandung vitamin C yang berperan penting dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Vitamin C pada ubi jalar dapat membantu melawan infeksi dan menjaga tubuh tetap sehat.

       Ubi jalar memiliki rendah kalori sehingga sangat cocok untuk dikonsumsi oleh orang yang tengah menjalani program diet. Dengan mengganti makanan pokok seperti nasi dengan ubi jalar sebagai sumber karbohidrat utama, maka asupan kalori harian bisa dikurangi.

KARYA ILMIAH - AHMAD SETIAWAN

 Sisi Lain Media Sosial: Antara Manfaat dan Dampak Negatif bagi Masyarakat Modern Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keh...