Rabu, 14 Mei 2025

DIALOG - KELOMPOK MAHRIN

Ahmad maalimil

Andi zaki

M. Filbert

M. Rajif 

Noormaida mahrin

:

 Judul: “Berani Berubah”

Latar Waktu dan Tempat:

Hari Senin pagi, pukul 07.00 WIB.

Di halaman sekolah sebelum jam pelajaran dimulai.


Tokoh:

Ahmad – Korban bullying, siswa pendiam dan baik hati

Mahrin – Pelaku bullying utama, anak yang suka pamer dan sok berkuasa

Rajif – Teman Mahrin, ikut-ikutan membully

Filbert – Teman Ahmad, tidak suka kekerasan tapi awalnya pasif

Andi – Siswa bijak yang berani membela kebenaran

[Adegan dimulai di halaman sekolah]

(Ahmad sedang duduk sendiri di bangku sambil membaca buku. Mahrin dan Rajif datang menghampiri dengan nada mengejek.)


Mahrin:

Eh, eh, lihat tuh! Si kutu buku Ahmad lagi belajar, padahal belum juga masuk kelas!


Rajif:

Hahaha! Apa kamu pikir buku bisa bikin kamu keren, Mad?


Ahmad: (berusaha tenang)

Aku cuma membaca. Nggak ganggu siapa-siapa, kan?


Mahrin:

Ganggu? Kamu tuh memang ganggu dari awal! Sok pintar, sok baik. Dasar aneh!


(Mahrin mendorong buku Ahmad hingga jatuh ke tanah.)


Ahmad: (pelan, menunduk)

Kenapa kalian selalu seperti ini? Aku nggak pernah salah sama kalian…


Rajif:

Karena kamu lemah! Hahaha!


(Filbert melihat dari kejauhan, ragu-ragu ingin membantu.)


Filbert: (dalam hati)

Aku harusnya bantu Ahmad... tapi kalau nanti aku malah dibully juga?


(Andi datang, melihat situasi, langsung menghampiri dengan tegas.)


Andi:

Mahrin! Rajif! Hentikan! Ini sudah keterlaluan!


Mahrin:

Wah, pahlawan kesiangan datang. Mau sok jadi guru, Andi?


Andi:

Aku cuma mau bilang, apa kalian senang nginjek orang lain? Ahmad nggak pernah ganggu kalian.


Rajif:

Yah, kami cuma bercanda, kok!


Ahmad: (dengan suara pelan tapi jelas)

Kalau itu bercanda, kenapa aku merasa takut tiap kali kalian datang?


(Suasana hening. Filbert maju mendekat.)


Filbert:

Aku juga salah. Aku tahu kalian salah, tapi aku diam aja. Maaf, Ahmad.


Andi:

Udah waktunya kita berani berdiri buat yang benar. Bukan cuma jadi penonton.


Mahrin: (terdiam, mulai merasa bersalah)

Aku... aku cuma mau dihargai. Tapi mungkin caraku salah...


Rajif:

Aku juga minta maaf, Mad. Nggak seharusnya kita begitu.


Ahmad: (tersenyum kecil)

Aku maafin kalian. Aku cuma mau bisa belajar dan punya teman, bukan musuh.


(Mereka semua saling menatap. Bel sekolah berbunyi. Mereka berjalan bersama menuju kelas.)


[Adegan Selesai]

Pesan Moral:

Berani membela kebenaran lebih sulit daripada diam, tapi itulah yang membuat perubahan. Setiap orang pantas dihormati, bukan direndahkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KARYA ILMIAH - AHMAD SETIAWAN

 Sisi Lain Media Sosial: Antara Manfaat dan Dampak Negatif bagi Masyarakat Modern Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keh...