Jumat, 15 November 2024

TEKS NARASI(cerpen)-AZZURA NARIDA

Matahari di Balik Jendela


Pagi itu, seperti biasa, Dina terbangun oleh suara kicauan burung di depan jendela kamarnya. Sinar matahari menembus tirai tipis, menghangatkan wajahnya yang masih lelap. Hari ini adalah hari Minggu, dan Dina tahu apa artinya: waktunya berkumpul bersama keluarga.


Dina tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ayah, ibu, dan adiknya, Raka. Meski kehidupan mereka tidak mewah, kehangatan keluarga selalu membuat rumah kecil itu terasa istana. Dina sangat menyayangi keluarganya, terutama ayahnya yang pekerja keras. Ayah Dina bekerja sebagai tukang kayu, sedangkan ibunya membantu tetangga membuat kue untuk menambah penghasilan.


Hari ini istimewa karena keluarga mereka akan menghabiskan waktu di taman kota. Dina dan Raka sudah tidak sabar menyiapkan tikar dan makanan kecil yang ibu buat sejak subuh.


“Raka, bantu Dina bawa ini ke mobil,” kata ibu sambil menyerahkan keranjang berisi nasi bungkus dan kue bolu. Raka yang baru berusia 8 tahun tersenyum lebar, merasa seperti seorang pahlawan kecil yang sedang menjalankan misi penting.


Di taman, suara tawa mereka terdengar memenuhi udara. Ayah mengajarkan Raka cara bermain layang-layang, sementara Dina dan ibu duduk di atas tikar, menikmati angin yang sejuk sambil berbagi cerita.


Namun, di tengah kebahagiaan itu, Dina tak bisa menyembunyikan perasaan khawatirnya. Ia tahu ayah sering pulang larut malam karena terlalu sibuk bekerja. Tangannya kasar dan wajahnya mulai penuh kerutan.


“Ayah tidak apa-apa, kan?” tanya Dina tiba-tiba. Ayah yang sedang duduk di sebelahnya menoleh dan tersenyum.

“Kenapa tanya begitu?”

“Dina cuma takut Ayah terlalu lelah.”


Ayah tertawa kecil, lalu merangkul Dina. “Ayah lelah, itu benar. Tapi Ayah bahagia, Dina. Lelah Ayah hilang setiap lihat kalian tersenyum.”


Kata-kata ayah itu menancap di hati Dina. Ia merasa bersyukur memiliki keluarga yang saling mencintai, meski mereka hidup dalam keterbatasan.


Ketika matahari mulai tenggelam, mereka berjalan pulang dengan perasaan yang hangat. Dina menatap keluarganya satu per satu, menyadari betapa berartinya kebersamaan ini.


“Kelak, aku ingin menjadi seperti Ayah dan Ibu,” pikir Dina. “Mereka adalah matahari yang selalu menerangi kami, bahkan di hari-hari yang sulit.”


Di balik jendela kamar malam itu, Dina melihat bintang-bintang yang bersinar terang. Ia tersenyum, memejamkan mata, dan berdoa agar keluarganya selalu dilindungi. Bagi Dina, keluarga adalah segalanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KARYA ILMIAH - AHMAD SETIAWAN

 Sisi Lain Media Sosial: Antara Manfaat dan Dampak Negatif bagi Masyarakat Modern Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keh...