BERJUANG DEMI NYAWA SESEORANG
Alarm yang kupasang masih menujukkan waku iga puluhmenit lagi menunjukkan pukul tiga. Sejenak saja aku terdudukbersandar ada sandaran Kasur diataku. Sambil mengucek-ucek kedua mata. Kepalaku pening, terasa sangat berat. Mungkin karena semalam aku terlalu larut pulang dari rumahsakit. Sehingga kantung mataku terlihat tebal hari ini.
Dinginnya hawa tak menyurutkan niatku untuk mlakukansembahyang tahajud seperti hari-hari biasanya. Aku berjalanlemas menuju kamar mandi guna berwudhu. Lantas segeramendirikan ibadah malam ini. Tiba-tiba, setetes cairan beningmenyentuh hangat pipiku. Mataku terasa memanas, memupukbanyakcairan disana. Bila kukedipkan mata pasti sudahmeluruh tangisku . Ingatanku Kembali melintas tanpa permisidikepalaku. Teringat bagaimana sakitnya boca kemarinberjuang diaas ranjang penuh dengan alat-alat medis. Terungatbagaimana kami berusaha penuh kyakinan membantu bocahberjuang. Hingga kami gagal membantu bocah Bersama tangisan pilu mengudara disana, menyayat hatiku akan rasa bersalah. CUKUP!! Segare kuhilangkan angan-anganku. Begitu saja air mataku kembai meluap sampai peningKembali melandaku membuatku merasa bodoh dan tak becusAku merasa inilah kesalahanku. Tanpa sadar aku terlelap
Meskipin aku nampak tertidur,namun pendengarankumasih menyala. Aku terbangun dikala umi membuka pintu“shifa sudah bangun sayang” kata umi lembut. “sudah umi”.”kalau begitu,cepe tan turun kita bareng sarapan bareng abi”.”iya umi Shifamandi dulu ya”. Kemudian umi menutup pintudan turun ke bawah. Umi sudah berkarya di dapur entah sejakkapan.
“Butuh bantuan, Ratuku?” tanyaku sambil memelukpinggangnya dari belakang. Tetap di posisi ini. Aku menolehke seberang meja makan. Abi duduk dengan mata dan senyuman kepada kami. Ku hampiri abi dan duduk di sebelahnya. ”Abi hari ini berangkat bareng abi ya..” pintacepat .
“loh, mobil kamu emangnya kemana?”.
”habis bensinnya bi”.
“Kok bisa sih. Bukannya baru kemarin sore disini”.
“Shifa pulang kelarutan semalam. Lagi pula setelah diisisore itu, bang raka pinjam Shifa, terus tau-tau udah tinggalsedikit aja”, jelas ku panjang lebar. Abi hanya menggelengkepala sambil menyeruput kopi. Kemudian abi hendakberucap Kembali terselak oleh ucapan umi
“Udah atuh, ngomongnya dilanjut nanti. Keburu telatnanti, ini dimakan.
Aku kembali meminta lebih tepatnya merengek kepadaabi dan ia kembali hendak protes. Namun, umi lagi-lagimenyela abi.
“Abi turutin aja Shifanya. Lagian kasian kamu nungguabangnya. pasti lamakan, kan searah rumah sakit abi.” jelasumi. Akhirnya abi mendengarkan perkaaan umi.
Setelah berpamitan dengan umi. Aku dan abi berangkatjuga. Di perjalanan suasana hening menyapa. Abi tak bicara, akupun tak bicara karena sibuk dengan pikiran masing-masing. Sehingga suara abi memecah keheningan yang melanda.
“Shifa, kalau ada apa-apa bilang abi ya, abi pasti lakuindemi shifa”
”Abi kenapa bicara seperti itu ?”
Abi tak langsung menjawab. ia menghembuskan nafasyang panjang dan berat. Apakah abi sakit,batinku. Sebenarsaja abi melirikku dan kemudian ia berkata “kamu nggaksembunyiin apapun dari abikan?”
“gak abi kenapa?”
“kamu nggak lagi sakit, Shifa?”
“Abi kenapa sih, langsung bicara intinya saja abi….”
“hufft… Abi nemuin semacam pil sebotol di kamarmuwaktu abi pingin ngajak kamu”
Aku tertegun. Tidak mungkin abi bisa mengetahuiperkara ini. Akupun berusaha mengelak. “oh itu, viamin bi. Gak perlu khawatir, itu Cuma vitamin.”
“tapi bentuknya nggak wajar shifa.”
“serius bi, iu cumin vitamin. Emang gak ada lebelnya. Shifa yang copot. Serius gakpapa . abi jangan khawatir yaa..”
“ huf… yasudah kalua iu penjelasanmu. tapi kamujangan sampai membohongi abi”.
“iya abi.”
Syukurlah abi percaya bahwa itu hanya vitamin.
Arloji di tanganku menunjukkan jam delapan. Pergerakan mobil mulai memelan, tiba di rumah sakit tempataku bekerja . segera kupamitan dengan abi. Aku berlari masukdan telah duduk di ruanganku sendiri. terdengar pinturuanganku diketuk dengan tergesa-gesa
“permisi dok, anda diharapkan segera menuju ICU. Terdapa korban tabrak lari,segera dok” pinta seorang susterdenagn panik.
“saya segerakan.”
Akupun berlari kea rah ICU. Begiu masuk, terlihatkorban terbaring tak berdaya penuh darah. Aku teringa bocahyang sama dangan bocah satu ini. Baiklah, mungkin tuhanmemberiku kesempatan untuk memperbaiki kesalahankuwaktu itu.
Jantungku terpacu dengan cepat saat berusahamenyelamatkan korban kecil ini. Operasi ini berlangsungselama 2 jam lebih. Dan syukurlah berakhir lancar dan melegakan. Meskipun tadi sempat terjadi kepanikan. Sempatjantung bocah ini tiba-tiba berhenti. Ditambah lagipembekuan darah juga. Namun hal tersebut tetap tertanganiberkat perjuangan yang tak kalah Panjang. Kini, ia telah di pindah tempat ke kamar rawat inap. Dengan kondisi selangmenempel pada tubuhnya, sebuah alat menyala disampingnya. Darah bergerak memenuhi selang-selang besar mengalirmelewati benda itu. Kututup pintunya perlahan.
“Dokter Shifa…” Seorang wanita berlari ke arahku. Lantas memelukku dengan erat. Aku menatap suster yang berada dibelakang Wanita ini. Suster tersebut mengangguk.
“Dia wali pasien, Dokter Shifa.” Wanita tersebutersenyum dengan tangisan haru dan berkata sambilmenggenggam tanganku.
“Sungguh… terimakasih banyak, Dokter. Terimakasihtelah menyelamatkan anakku. Terimakasih.” Isak Wanita ini.
“iya bu, sama-sama. Itupun juga karena anak ibu kuatseperti ibunya.” Ucapku hangat. Wanita itu tersenyum hangatdan memelukku sekali lagi.
“Ya tuhan, terimakasih Engkau telah menolong anaktersebut. Terimakasih Engkau memberiku kesempatan untuktidak mengulangi kesalahanku waktu dulu.” Batinku berucap.
Aku pun pulang dengan perasaan teramat bahagia. Aku memutar pandangan ke segala penjuru gedung. Aku mendapati dua sosok manusia yang aku cintai. Begitu akududuk mereka menatapku heran. Seperti terjadi sesuatudenganku hari ini.
"Nak, kenapa senyum-senyum sendiri?" Tanya Abiku.
"Shifa, hari ini seneng... banget Abi, Ummi"
"Gitu dong... Alhamdulillah kalo kamu seneng. Kamupasti capek. Udahan sana istirahat dulu gih." jawab Ummi ku.
"Ya, Ummi. Tapi nanti Shifa mau kasih kejutan samakalian."
Mereka mengangguk dengan senyum merekah.
Begitu masuk kedalam kamar, Aku langsungmerebahkan tubuhku diatas kasur. Berkali-kali akumengucapkan syukur atas keberhasilanku kali ini. Bayangan-bayangan atas kejadian dulu, kembali tertoreh dikepalaku. Kemudian terganti dengan bayang-bayang anak yang barusanAku selamatkan. Aku memutuskan untuk mandi dan melaksanakan sholat. Selepas itu, Aku pun melipat mukenahdan hendak turun ke bawah.
Namun, begitu ingin membuka pintu tiba-tiba sajadadaku terasa sakit sekali. Aku terenyak dan sontak mengusapcairan merah dihidungku. Mataku terbelalak ketika merasagetaran hebat ditubuhku. Tubuhku hampir merosot ke lantai. Pandanganku semakin terasa berat. Aku mengedipkan matabeberapa kali dengan tangan memukul-mukul dada. Semuasemakin remang-remang. Aku mengambil gelas diatasnakasku dan beberapa tanlet obat dari sebuah botol kacadanmeminumnya sskaligus. Aku kembali meminum obat Steroid. Namun, tubuhku menolak obat tersebut dan menyemburkandarah memalui mulutku.
"Jangan kambuh sekarang." Keluhku. Namun rasanyatubuhku tak lagi sanggup dan...
Pyarr...
Gelas yang ku pegang pecah, tubuhku merosot ke bawahdisertai batuk-batuk hebat. Ummi yang mendengar suarapecahan dari kamarku lantas segera menuju kamarku.
"ABII!!!" Teriak Ummi ketika melihatku. Ummilangsung memelukku yang hampir pingsan.
"Shifa, Shifa... Bangun sayang! Jangan buat Ummikhawatir, Shifa!" Teriak Ummi bersamaan Abi yang melihatkeadaan ini lantas menggendongku dan berlari turun menujumobil. Dan segera membawaku ke rumah sakit.
Aku mengerjapkan mata karena silau. Lmapu besarmentereng diatasku. Kulihat ada beberapa orang berpakaianserba hijau khas pakaian operasi dengan menggunakanmasker. Kudengar beberapa orang mengatakan penyakitkuparah. Mereka panik "Kita harus segera bertindak lagi, penyakit Multiple Sclerosis ini akan bertahap menjadiNeuritis Optik bila kita terlambat" seru orang tersebut. Hinggapandanganku kembali gelap.
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar