Rabu, 20 November 2024

TEKS NARASI (cerpen)-AHMAD ZIDAN

Secangkir Teh di Saat Hujan Tiba


Rintik hujan mulai turun, membasahi atap rumah kecil di ujung desa. Suara gemericiknya lembut, seperti bisikan yang menghibur hati. Di dalam rumah, Tania duduk bersandar di dekat jendela kamar, memandangi butir-butir air yang jatuh tanpa henti. Langit kelabu, diselimuti awan tebal, membuat suasana terasa lebih dingin dari biasanya.


Perlahan, Tania berdiri dan melangkah menuju dapur. Hujan seperti ini selalu mengingatkannya pada satu hal: secangkir teh hangat. Tangannya yang mungil mengambil teko dari rak, lalu mengisi air ke dalamnya. Ia menyulut api di atas kompor, membiarkan air mendidih pelan-pelan sambil menyiapkan daun teh melati yang disimpannya dalam wadah kecil di meja.


Aroma harum teh melati segera memenuhi ruangan ketika ia menuangkannya ke dalam cangkir keramik biru kesayangannya. Cangkir itu adalah peninggalan neneknya, hadiah terakhir sebelum nenek pergi untuk selamanya. Tania membawa cangkir itu ke ruang tengah, duduk di kursi kayu dekat jendela, dan membiarkan uap teh menyentuh wajahnya.


Hujan di luar semakin deras, menghantam kaca jendela dengan ritme tak beraturan. Angin meliukkan dedaunan dan ranting pohon, menciptakan simfoni alam yang terasa menenangkan. Tania menyeruput teh itu perlahan. Kehangatannya menjalar dari tenggorokan ke tubuhnya, seakan mengusir semua dingin yang mengendap di sudut-sudut hati.


Ia teringat pada masa kecilnya. Saat hujan seperti ini, nenek selalu mengajaknya duduk di teras rumah. Mereka berbagi selimut dan secangkir teh yang sama. Nenek akan bercerita tentang masa mudanya, kisah-kisah yang penuh semangat dan mimpi besar. "Tania," kata nenek suatu kali, "hidup itu seperti teh ini. Kadang pahit, kadang manis, tapi selalu hangat jika kau menikmatinya dengan hati."


Namun, kini semuanya hanya tinggal kenangan. Nenek telah pergi bertahun-tahun yang lalu, meninggalkan ruang kosong di hati Tania yang tak pernah sepenuhnya terisi. Namun, ia selalu percaya bahwa hujan adalah jembatan yang menghubungkan mereka. Setiap rintiknya seperti membawa pesan dari nenek, mengingatkannya untuk terus melangkah meski dunia terasa dingin.


Tania tersenyum kecil. Ia menatap teh di tangannya dan membiarkan pikirannya melayang-layang. Hujan mungkin membangkitkan kesedihan, tapi ia juga membawa kehangatan dalam bentuk lain: kenangan. Baginya, secangkir teh di saat hujan tiba bukan sekadar minuman. Ia adalah pelukan hangat dari masa lalu, janji bahwa hidup akan terus berjalan, dan pengingat untuk mensyukuri hal-hal kecil.


Di luar, hujan mulai mereda. Butiran air di kaca jendela terlihat seperti berlian kecil yang berkilauan diterpa sinar matahari samar-samar. Tania menyeruput teh terakhirnya, membiarkan kehangatannya mengisi tubuh hingga ke sudut-sudut hati.


Ketika malam tiba, Tania masih duduk di sana, ditemani oleh sisa-sisa kehangatan teh dan gemerisik hujan yang mulai menghilang. Ia tahu, hujan akan datang lagi lain waktu, membawa cerita baru, dan tentu saja, secangkir teh hangat akan selalu menantinya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KARYA ILMIAH - AHMAD SETIAWAN

 Sisi Lain Media Sosial: Antara Manfaat dan Dampak Negatif bagi Masyarakat Modern Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keh...